POTENSI ADAT DAN TRADISI

desaq 29 Januari 2026 10:04:36 WIB

POTENSI ADAT DAN TRADISI

KALURAHAN BUDAYA TAMBAKROMO

 

A. POTENSI ADAT

  1. RASULAN PADUKUHAN: Wujud Syukur Pada Tuhan YME dan dilaksanakan pada setiap bulan besar atau sesudah panen. Kondisi masih dilaksanakan oleh warga masyarakat Desa Tambakromo. Waktu rasulan berbeda-beda di setiap padukuhan, waktu rasulan ditentukan menurut perhitungan penanggalan jawa.
  2. SEDEKAH BENDUNGAN: Wujud Syukur Pada Tuhan YME dan dilaksanakan pada setiap bulan besar atau sesudah panen. Kondisi masih dilaksanakan oleh warga masyarakat Dusun Tambakromo Desa Tambakromo. Biasanya dilakukan sebelum rasulan dengan uborampe nasi ambeng, jenang bakal, kembang boreh, dan sekapur sirih. Waktu Sedekah Bendungan ditentukan menurut perhitungan penanggalan jawa. 
  3. SURAN: Kenduri dan Tirakatan Suran dilaksanakan setiap tanggal 1 Suro. Kondisi masih dilaksanakan oleh warga masyarakat Desa Tambakromo. Prosesi warga berkumpul di balai desa membawa tumbengan dengan lauk pauk hasil bumi dan dipimpin oleh tokoh adat /pemangku adat untuk memimpin kenduri samoai selesai. Dengan uborampe  tumpengan lauk pauk hasil bumi. 
  4. GUMBREGAN: Wujud syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan dalam bentuk hewan ternak. Harapannya agar hewan ternak tetap sehat dan hasil pertanian meningkat. Tradisi ini masih dilaksanakan warga masyarakat yang punya ternak dengan prosesi anak-anak berkumpul di kandang sapi, kebo, kambing umbo rambe. Disiapkan oleh pemilik rumah dan diikharkan sampai selesai. 
  5. WIWITAN: Adat tradisi untuk mengawali penanaman di sawah/ladang. 
  6. METHIK/NGUNDUH: Adat tradisi mengawali panen di sawah/ladang.
  7. RUWAHAN: Upacara menghormati arwah yang sudah meninggal biasanya dilakukan sebelum bulan puasa dan dibarengi dengan bersih lingkungan dan bersih makam/sarehan. Kondisi masih dilaksanakan setiap bulan ruwah. 
  8. RIYAYA: Kenduri yang masih dilaksanakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri
  9. RUWATAN: Upacara adat Jawa yang bertujuan untuk membebaskan seseorang atau suatu tempat dari pengatuh negatif atau malapetaka. Upacara ini dilakukan dengan berbagai ritual, seperti pertunjukan wayang kulit, ritual memandikan anak yang diruwat, dan pemotongan rambut. Ruwatan diyakini sebagai sarana untuk menghalau kesialan dan mengharapkan keselamatan serta keberkahan. 
  10. MULUDAN: Tradisi perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, terutama di Jawa. Dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti selamatan
  11. TIRAKATAN: Kegiatan yang dilakukan pada malam hari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tanggal 16 Agustus malam.
  12. KENDURI: Tradisi perjamuan atau perayaan yang umum dilakukan di masyarakat Jawa. Acara ini biasanya diadakan untuk memperingati berbagai peristiwa penting, seperti kelahiran, pernikahan, atau upacara keagamaan, serta untuk memohon berkah dan keberkahan. Kenduri juga disebut dengan istilah selamatan/kenduren.

 

B. POTENSI TRADISI

  1. NELONI: Tradisi atau ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa 3 bulan dalam kandungan. 
  2. MITONI: Upacara adat Jawa yang dilakukan ketika seorang ibu hamil mencapai usia kandungan tujuh bulan. 
  3. BROKOHAN: Tradisi jawa untuk menyambut kelahiran bayi, bermakna "memohon berkah" atau "berharap keberkahan". Upacara ini dilakukan segera setlah bayi lahir dan biasanya melibatkan pembagian sesaji dan doa bersama. Brokohan merupakan bentuk rasa syukur dan harapan untuk keselamatan dan kesejahteraan bayi di masa depan. 
  4. SEPASARAN: Tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan lima hari setelah bayi lahir. 
  5. CUKUR BAYI: Mencukur rambut bayi merupakan praktik yang sering dilakukan sebagai bagian dari tradisi atau ritual tertentu. Upacara tradisi memotong rambut pertama kali setelah lahir, dilakukan setelah usia bayi 32 hari/selapan dino. 
  6. SELAPANAN: Tradisi Jawa untuk bayi yang telah berusia 35 hari, dirayakan dengan selamatan, mencukur rambut, dan memotong kuku bayi. 
  7. SETAHUNAN: Tradisi selamatan yang dilakukan untuk bayi ketika ia berusia satu tahun. 
  8. TEDAK SITEN: Tradisi atau upacara adat Jawa yang dilakukan saat bayi berusia sekitar tujuh atau delapan bulan, ketika mereka pertama kali menapakkan kaki ke tanah 
  9. NYAPEH: Tradisi nyapih bayi dimana seorang ibu secara bertahap menghentikan pemberian ASI kepada anaknya. 
  10. KHITAN/SUPITAN: Upacara pemotongan kulup pada anak laki-laki. Merupakan bagian dari upacara daur hidup dan peralihan seorang anak laki-laki ke masa dewasa. 
  11. MIDODAREN/SIRAMAN: Rangkaian upacara yang dilakukan sebelum pernikahan, khususnya untuk mempelai wanita, pada malam menjelang akad nikah atau pesta pernikahan. Acara ini sering disebut sebagai malam pengarip-arip atau malam terakhir bagi calon mempelai perempuan sebelum memasuki masa pernikahan. 
  12. MANTEN: Upacara tradisi bertemunya sepasang jodoh laki-laki dan perempuan yang direstui kedua orang tua, saudara, keluarga/besan, serta warga. 
  13. SURTANAH/GEBLAK: Tradisi yang dilakukan ketika seseorang meninggal dunia, bertujua agar arwahnya mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan. Upacara ini juga dikenal dengan Bedah Bumi atau Nyusur Tanah. Surtanah biasanya dilakukan setelah jenazah dimakamkan dan dihadiri oleh keluarga, tetangga, dan tokoh agama. 
  14. TELUNGDINO: Kenduri selamatan memperingati 3 hari setelah meninggal
  15. PITUNGDINO: Kenduri selamatan memperingati 7 hari setelah meninggal
  16. PATANGPULUH: Kenduri selamatan memperingati 40 hari setelah meninggal
  17. SATUS/NYATUS: Kenduri selamatan memperingati 100 hari setelah meninggal
  18. SETAHUNAN/MENDAK 1: Kenduri selamatan memperingati 1 tahun setelah meninggal
  19. RONGTAHUN/MENDAK 2: Kenduri selamatan memperingati 2 tahun setelah meninggal
  20. NYEWU/1000 HARI: Kenduri selamatan memperingati 1000 hari setelah meninggal

 

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar